Thoughts, Words, and Wisdom - A Journal Made by One Yellow Chick


1000++ Equals Zero

Minggu, 1 Februari 2009
02:14:06

Beberapa waktu yang lalu salah satu temen gw berulang tahun. Singgah sebentar ke facebooknya dengan maksud menyalami selamat ulang tahun. Ada hal yang cukup membuat gw kaget. Tertegun. Jumlah temen facebooknya sekitar 1000an lebih. Busyet. Gaul banget yah ni orang. 1000an lebih. 1000an plus plus. Temen dari mana aja tuh. Jebol aja tu ceceng.

Tapi bukan itu yang membuat gw sampe tertegun dengan bilangan tersebut. Bukan jumlah nominalnya. Tapi karena gw inget dia pernah bilang:
Gw ngerasa anak-anak ngejauhin gw, Nes. Gw ngerasa uda deketin mereka tapi mereka malah kayak menjauh dari gw.

Ironikah? (ngomong-ngomong gw suka dengan kata “ironi” belakangan ini karena kata itu bikin kita mikir :)
Can’t you hear it? The implicit voice of one soul. Yeap. A voice of loneliness.

Gw tertegun karena gw tahu, bilangan 1000 belum tentu bisa mengisi satu ruangan yang kosong. Satu ruangan di hati dia yang berbisik kesepian. Satu ruangan yang mungkin makin kesakitan saat bilangan itu semakin bertambah. The bigger the number, the lonelier he might get then.

Tapi ruangan itu minta diisi!

Makanya dia mencari. Makanya dia mendekat. Makanya dia berjuang keras. Tanpa tuntunan yang jelas. Agak kabur. Melenceng. Dia berkelana. Dari sini ke sana. Dari sana ke situ. Berpikir sepi itu bisa enyah dan ruangan itu tidak hampa lagi. Berharap teman yang baru, tempat yang baru, bisa menyelesaikan masalah kronisnya.

Selesaikah? Entahlah. Mungkin ruangan itu sudah terisi sekarang. Gw harap bukan oleh hal semu seperti yang pernah (atau sering?) dialaminya. Kepenuhan semu yang mudah menguap dengan kekecewaan yang dia ceritakan. And that disappointment could be more painful than the loneliness he has. Or it might just exacerbate it.

Apa yang salah? His self-medication attempts? Wrong curing-methods?

Apa yang membuat dia kesepian? His family? His past? This world?

Siapa yang salah? Dia? His attitude? His friends? Siapa? Mereka? Kamu? Kalian?

Saya?

Dunno. Gw cuma bisa berdoa buat dia secara gw emang gak deket-deket banget sama dia. Berdoa buat penyertaan Tuhan di tahun-tahun kehidupannya. Biar gak terus-menerus terjebak dalam kesemuan dan kehampaan. Dan semoga dia bisa tahu bagaimana menemukan pengisi ruangan itu. Pengisi yang sejati. Yang benar dan ampuh. 

Aniway, kita semua pernah punya ruangan macam itu kan? Kita semua pernah atau memang seperti dia kan? Kita pikir, “Ini dia solusinya!”. Tapi kekecewaan mengguyur luntur harapan kita. Kita pikir dada ini gak akan kopong lagi. “Sudah terisi!” seru kita. Kita pikir. Namun kita rasa. Kita rasa dan rasanya memang ruangan itu masih kosong. Ternyata kita masih sakit dalam kesepian. Kita belum sembuh. Dan sama seperti temen gw itu, kita terjebak dalam usaha pengisian ruangan yang berulang-ulang, namun justru berakhir dengan kekecewaan yang makin dalam.

And, yes, I’ve been there. Thankfully, Someone ended this vicious cycle. This heart finally fully-fullfilled. Kekecewaan masih berkeliaran dan tetap muncul sih. Pastinya. Tapi kataNya: “Buat apa sih masih dipikirin? Kalo ruangan udah diisi penuh sama Aku, kenapa masih kasi tempat sama ‘kekecewaan’? Udah deh, biar Aku yang buang ‘kekecewaan’ itu. Aku ganti ya sama yang lain.”

And He absolutely knows what other greater, better word that should have replaced “disappointment” for a long time ago. You might get confused here. He put His own name as a substitute. It is written in LOVE. But it is spelled IMMANUEL. Me also get bewildered. But then I remember what John already said.

….God is love. (1 John 4:8b)

So, any room need to be fulfilled?

 
The thought of You stirs him so deeply that he cannot be content unless he praises You, because You made us for Yourself and our hearts find no peace until they rest in You.
-Augustine-

There is a God-shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus.
-Blaise Pascal-