Diamkan, Tenangkan, Ingatkan, Kuatkan…
Di bawah ini adalah postingan gw yang uda lama banget. Gak tau kenapa gak langsung gw publish. Posting ini emang berbentuk doa. Jeritan hati saat itu buat Yang Di Atas. Waktu itu gw lagi sumuk-sumuknya sama klinik (like usual). Sama pelayanan. Lagi pusing sama seseorang. Pokoknya lagi ENEK. Hahaha. Gw masih inget kalo dulu gw pernah berhasrat untuk punya hidup yang tenang. Tanpa konflik. Ojo neko neko. Apparently, that is nonsense. Bullshit. Mau hidup tenang? Tanpa masalah? Then go to die. Hidup sendiri adalah masalah. So live and enjoy with it. Some questions emerged while I was reading this post. Darimana asal kata Apparently itu? Sejak kapan gw berubah konsep? Kok bisa? And there will always come one great gratitude to end up those questions. Yes, it’s Him. He who works on this transformation. Providing grace by grace for each wobbly step I take. Filling this head with this wisdom. Strengthening this soul with His words.
Siapa yang sangka jeritan hati bisa berubah jadi pengumbar senyum di kemudian hari?
Dan semoga jeritan ini boleh menguatkan gw kalo suatu hari nanti gw akan menjerit (lagi). Hehehe.
Minggu, 20 April 2008
19:12:46
Tuhan, kadang aku ingin hidup dengan tenang.
Benar-benar tenang, Tuhan.
Tak mau sibuk. Tak mau pusing. Hanya menikmati hari bersama Engkau.
Tak mau melihat konflik di tengah jalan.
Tenang. Benar-benar tenang.
Tak mungkin. Aku tahu itu tak mungkin.
Dan aku tahu. Betapa pengecutnya hidup seperti itu. Betapa pemalasnya hidup seperti itu. Aku terlalu mengingini hal itu. Berdosakah aku, Tuhan?
Tuhan, aku bergumul setiap hari. Kadang aku menikmatinya. Kadang aku lupa untuk menikmati pergumulan itu. Kadang aku mengeluh sedemikian keras. Begitu manja.
Tuhan, bagaimana ini? Aku bergumul dalam pelayananku. Bingung menolak apa yang harus kutolak. Bingung menentukan fokusku sendiri. Begitu mudah patah semangat melihat kondisi “pekerja-pekerjaMu”. Tuhan, tolong. Aku menangis untuk pekerjaanMu, Tuhan. Entah apa yang harus kulakukan dalam pelayanan ini. I’m lost in this service, God. Clueless. Aku hanya bisa berseru dan mengadu padaMu. Ingin dikuatkan. Ingin dibakar dengan semangatMu. Ingin tahu apa yang Kau perintahkan untuk aku laksanakan. I am so damn clueless, God. Aku takut menjadi batu sandungan bagi pekerjaanMu. Jangan, Tuhan. Aku mohon. Jangan biarkan pekerjaanMu rusak oleh tangan anakMu ini.
Tuhan, aku menangis lagi. Jangan biarkan air mata ini melemahkan aku, Tuhan. Jangan.
Tuhan, aku takut. Melampaui batas itu. Di mana logika membisu dan tumpul. Takluk oleh perasaan. Tuhan, aku pernah mengalami hal itu. Aku tak mau mengulanginya lagi. Aku mau dikendalikan olehMu saja. Tuhan, aku lemah. Aku bergumul. Aku berjuang. Tuhan, berikan aku rasa aman itu. Tentramkan hati yang galau ini. Yang liar dengan pikiran-pikirannya. Yang mudah kalut dengan hembusan-hembusan si jahat. Tuhan, tolong. Aku berdoa untuk orang ini. Hanya satu kerinduanku. MengasihiMu. Menyenangkan hatiMu. Mempersembahkan seluruh hidupku hanya bagiMu. Jikalau hubunganku dengannya malah membuatku semakin jauh dariMu, Tuhan, aku mohon, matikan perasaan ini dengan apapun caranya. Tolong aku untuk semakin mengasihiMu.
Tuhan, setiap hari raksasa itu selalu muncul. Dosen yang keras. Teman yang semakin sibuk. Teman yang egois. Ayah yang keras kepala. Dan masih banyak lagi. Terlalu banyakkah aku menghitung, Tuhan? Oh, masih ada lagi. Segala kekurangan yang ada dalam diriku. Masa depan yang tidak tentu. Aku menjadi raksasa bagi diriku sendri. Oh, Tuhan, terlalu berlebihankah aku memandang raksasa-raksasa itu? Ya, terlalu berlebihan. Keterlaluan. Keterlaluan bodohnya aku ini. Keterlaluan rabunnya aku ini. Bagaimana mungkin tangan Bapa yang Mahakuasa itu, yang kekuatanNya jauh jauh jauh melampaui raksasa-raksasa itu, bisa tidak terlihat? Tuhan, celikkan mataku. Bagaimana mungkin semua pengalaman saat Kau menjagaku, aku lupakan begitu saja? Tuhan, ingatkan aku!
Tuhan, diamkan aku! Tenangkan aku! Aku mau menutup mata pada sosok raksasa itu dan hanya mau melihat pekerjaan tanganMu. Aku mau menutup telinga dari geraman raksasa itu dan hanya mau mendengar suaraMu. Aku mau hidup di dalam terang pimpinanMu. Bukan di bawah bayang-bayang mereka. Ijinkan aku menghujamkan sauhku di atas FirmanMu sampai dengan teguh aku boleh bangkit. Berjalan kembali bersamaMu dan berkata: “Mari Tuhan, kita kalahkan raksasa-raksasa itu!”.
Diamkan, tenangkan. Ingatkan dan kuatkan aku, ya Tuhan.
