Thoughts, Words, and Wisdom - A Journal Made by One Yellow Chick


Sebuah Pulau Bernama Kedokteran Gigi

Hahaha. Ini juga postingan lama gw. Waktu itu gw lagi merasa terdampar. Benar-benar terdampar. Petualangan sih masih berlangsung. Yah semoga aja sekian sekian tahun kemudian gw bisa baca post ini lagi sambil senyum-senyum geli-geli jijay malu gitu deh. Hehehe. Enjoy. :)
 

Senin, 30 Juni 2008

Aku tidak pernah mengerti bagaimana Tuhan memimpin jalanku.

Dokter gigi. Tidak sepintaspun aku pernah memikirkannya. Dokter gigi. Aku? Dokter gigi?
Dengan keteledoranku. Dengan kemalasanku. Dengan kekuranganku. Modal apa yang kupunya?
Not even a hint I knew about this toothy thing!
Namun, aku bertahan di sini. Ya, bertahan di pulau asing ini. Bertahan 4 tahun lebih.

Tuhan, mau ke mana? Kau mau bawa aku ke mana? Perjalanan ini tampak remang. Amat remang.

Aku bergumul. Mencari tahu maksudMu. KehendakMu. Namun apa yang kudapat? Nihil. Tidak secuilpun aku makin mengerti perjalanan hidupku. Masa depanku.

Aku bergumul. Berpikir dengan keras. Berpikir hingga lelah. Dan semuanya itu sia-sia.

Aku bertanya kembali. Apakah aku salah jalan? Apa aku perlu mundur? Apa aku perlu memilih jalan lain? Putar balik? Maju terus?
Aku melihat temanku. Dengan jalan yang ia pilih (atau jalan yang ia pun tidak mengerti?). Kelihatannya menyenangkan. Kelihatannya sesuai dengan diriku.
Seorang guru. Bekerja bersama mereka, anak-anak itu, yang dunianya penuh dengan warna. Menjadi teman bagi anak-anak itu. Mendengarkan ketika mereka bercerita. Membagikan hikmat yang Tuhan ajarkan kepada mereka. Begitu nyaman aku membayangkannya. Guru biologi. Guru bahasa inggris. Aku suka keduanya karena aku boleh sedikit sombong di bidang ini.

Pikiranku buyar dan beralih ke pikiran lain. Aku suka membaca. Aku suka berpikir. Aku suka menghasilkan sesuatu lewat pikiranku. Buah pena. Tulisan. Kata-kata. Bukan sembarang kata-kata. Sebuah rangkaian yang menguatkan. Sebuah untaian yang menyejukkan setiap orang yang membacanya. Betapa nyaman aku memikirkannya.

Imajinasiku berkeliaran sementara tubuh ini terdampar di sebuah pulau asing bernama Kedokteran Gigi.

Jadi, siapa yang membawaku ke pulau ini?

Tuhan. Ya, siapa lagi. Mengapa? Entah. Sampai kapan? Entah. Haruskah aku mundur? Jangan. Putar balik? Tidak perlu.

Ya, mengapa aku harus mundur? Mengapa harus putar balik? Pulau ini telah mengajarkan banyak hal padaku bukan? Amat banyak. Empat tahun di pulau ini. Tidakkah berarti apa-apa bagiku sampai aku begitu ingin mundur?

Dengan tegas, Ia berkata: “Selesaikan perjalananmu, Nak. Hanya taat dan percaya padaKu. Aku akan membawamu ke panggilanmu. Namun, selesaikan dulu perjalananmu di sini denganKu. Jangan berpikir ini bukan bagian dari rute menuju panggilanmu. Pulau ini pun termasuk rute menuju panggilanmu.”
Dengan pelan, aku menjawab: “Ya Tuhan, aku mengerti. Banyak hal yang masih tak kumengerti. Namun, biar aku mengerti hal-hal yang menjadi bagianku. Taat dan percaya. Pimpin aku menuju panggilanmu. Ijinkan aku menikmati pulau ini. Menikmatinya bersama-Mu.”

Aku menyudahi perhentianku. Mengangkat kepalaku. Melanjutkan perjalananku kembali di pulau ini.

The journey continues…


Diamkan, Tenangkan, Ingatkan, Kuatkan…

Di bawah ini adalah postingan gw yang uda lama banget. Gak tau kenapa gak langsung gw publish. Posting ini emang berbentuk doa. Jeritan hati saat itu buat Yang Di Atas. Waktu itu gw lagi sumuk-sumuknya sama klinik (like usual). Sama pelayanan. Lagi pusing sama seseorang. Pokoknya lagi ENEK. Hahaha. Gw masih inget kalo dulu gw pernah berhasrat untuk punya hidup yang tenang. Tanpa konflik. Ojo neko neko. Apparently, that is nonsense. Bullshit. Mau hidup tenang? Tanpa masalah? Then go to die. Hidup sendiri adalah masalah. So live and enjoy with it. Some questions emerged while I was reading this post. Darimana asal kata Apparently itu? Sejak kapan gw berubah konsep? Kok bisa? And there will always come one great gratitude to end up those questions. Yes, it’s Him. He who works on this transformation. Providing grace by grace for each wobbly step I take. Filling this head with this wisdom. Strengthening this soul with His words.

Siapa yang sangka jeritan hati bisa berubah jadi pengumbar senyum di kemudian hari? :) Dan semoga jeritan ini boleh menguatkan gw kalo suatu hari nanti gw akan menjerit (lagi). Hehehe.

 

Minggu, 20 April 2008
19:12:46

Tuhan, kadang aku ingin hidup dengan tenang.
Benar-benar tenang, Tuhan.

Tak mau sibuk. Tak mau pusing. Hanya menikmati hari bersama Engkau.
Tak mau melihat konflik di tengah jalan.

Tenang. Benar-benar tenang.
Tak mungkin. Aku tahu itu tak mungkin.

Dan aku tahu. Betapa pengecutnya hidup seperti itu. Betapa pemalasnya hidup seperti itu. Aku terlalu mengingini hal itu. Berdosakah aku, Tuhan?

Tuhan, aku bergumul setiap hari. Kadang aku menikmatinya. Kadang aku lupa untuk menikmati pergumulan itu. Kadang aku mengeluh sedemikian keras. Begitu manja.

Tuhan, bagaimana ini? Aku bergumul dalam pelayananku. Bingung menolak apa yang harus kutolak. Bingung menentukan fokusku sendiri. Begitu mudah patah semangat melihat kondisi “pekerja-pekerjaMu”. Tuhan, tolong. Aku menangis untuk pekerjaanMu, Tuhan. Entah apa yang harus kulakukan dalam pelayanan ini. I’m lost in this service, God. Clueless. Aku hanya bisa berseru dan mengadu padaMu. Ingin dikuatkan. Ingin dibakar dengan semangatMu. Ingin tahu apa yang Kau perintahkan untuk aku laksanakan. I am so damn clueless, God. Aku takut menjadi batu sandungan bagi pekerjaanMu. Jangan, Tuhan. Aku mohon. Jangan biarkan pekerjaanMu rusak oleh tangan anakMu ini.

Tuhan, aku menangis lagi. Jangan biarkan air mata ini melemahkan aku, Tuhan. Jangan.

Tuhan, aku takut. Melampaui batas itu. Di mana logika membisu dan tumpul. Takluk oleh perasaan. Tuhan, aku pernah mengalami hal itu. Aku tak mau mengulanginya lagi. Aku mau dikendalikan olehMu saja. Tuhan, aku lemah. Aku bergumul. Aku berjuang. Tuhan, berikan aku rasa aman itu. Tentramkan hati yang galau ini. Yang liar dengan pikiran-pikirannya. Yang mudah kalut dengan hembusan-hembusan si jahat. Tuhan, tolong. Aku berdoa untuk orang ini. Hanya satu kerinduanku. MengasihiMu. Menyenangkan hatiMu. Mempersembahkan seluruh hidupku hanya bagiMu. Jikalau hubunganku dengannya malah membuatku semakin jauh dariMu, Tuhan, aku mohon, matikan perasaan ini dengan apapun caranya. Tolong aku untuk semakin mengasihiMu.

Tuhan, setiap hari raksasa itu selalu muncul. Dosen yang keras. Teman yang semakin sibuk. Teman yang egois. Ayah yang keras kepala. Dan masih banyak lagi. Terlalu banyakkah aku menghitung, Tuhan? Oh, masih ada lagi. Segala kekurangan yang ada dalam diriku. Masa depan yang tidak tentu. Aku menjadi raksasa bagi diriku sendri. Oh, Tuhan, terlalu berlebihankah aku memandang raksasa-raksasa itu? Ya, terlalu berlebihan. Keterlaluan. Keterlaluan bodohnya aku ini. Keterlaluan rabunnya aku ini. Bagaimana mungkin tangan Bapa yang Mahakuasa itu, yang kekuatanNya jauh jauh jauh melampaui raksasa-raksasa itu, bisa tidak terlihat? Tuhan, celikkan mataku. Bagaimana mungkin semua pengalaman saat Kau menjagaku, aku lupakan begitu saja? Tuhan, ingatkan aku!

Tuhan, diamkan aku! Tenangkan aku! Aku mau menutup mata pada sosok raksasa itu dan hanya mau melihat pekerjaan tanganMu. Aku mau menutup telinga dari geraman raksasa itu dan hanya mau mendengar suaraMu. Aku mau hidup di dalam terang pimpinanMu. Bukan di bawah bayang-bayang mereka. Ijinkan aku menghujamkan sauhku di atas FirmanMu sampai dengan teguh aku boleh bangkit. Berjalan kembali bersamaMu dan berkata: “Mari Tuhan, kita kalahkan raksasa-raksasa itu!”.

Diamkan, tenangkan. Ingatkan dan kuatkan aku, ya Tuhan.


Dirty Little Tongue

Serpong
Rabu, 5 November 2008
23:10:35

Human just love to talk about others. Gossip. Anything contains of negative issues. We just love to talk about it. Enjoy to boast about it. Hate to say, it’s a woman’s favorite subject. Jarang lelaki punya hobi seperti ini. Ya. Jarang. Namun ada. Belakangan aku menikmatinya. These are the triggers.

“Eh, ada berita baru.”
“Lu tau gak si X.”
“Katanya sih dia emang gitu orangnya.”

And, so on. You may make your own verses. Oh, gosh.

Dulu, aku pernah curiga dengan mereka. Mereka yang sering tertawa denganku. Mereka yang kutemui hampir setiap hari. Apa mereka ikut ngomongin gw? Apa mereka juga ngomongin gw di belakang? Dan menyakitkan jika kecurigaan itu terbukti. The one who often laughs with you is the one who also talks behind your back. It hurts.

And now, I become those whom I usually call “Backstabbers“. What a guilt that strikes me back. Mulut bergerak tanpa kekang. Perkataan meluncur tanpa rem. Aku lupa akan luka itu. Aku menoreh luka mereka diam-diam.

Aku gak ngerti. Kita tuh gampang banget nget nget kepancing buat ngomongin kejelekan orang (mikir aja kita tuh siapa). It’s like our nature. Automatic. Our great tendencies to look at others’ flaws. Tidak mudah mata ini melihat apa yang baik. Bukan begitu? We’re so attracted with those crappy infotainment shows. Scandalicious story appeases us. One America drama series about bunch of girls gosipping and backstabbing each others emphasizes the reality of this ugly habit. We’re easily to stuck with others’ fault. Kita seperti kompor hidup. Kita senang menambahkan bumbu yang tak perlu. And while we’re doing these, our self-reflection mirrors become so blur. Our eyes got blocked. Entah terhalang oleh apa. Self-righteousness? Jealousy? Hatred? The thought of we’re-better-than-the-one-we’re-being-talked-about? You name it. You know the dirt of your own mind, do you? Seperti kata Yohan Candawasa, kita lebih sering melihat apa yang ada di luar diri kita. Menilainya sesuka hati kita. And, we rarely looking deep into our own heart. Kita sibuk dengan selumbar di mata orang lain. Yet, we hardly see that there’s a big wooden block in our own eyes. What a dirty heart. Filthy mouth. Uncontrollable tongue. The nature of this sinful creature.

You’re right, God. Tongue is a fire. Small organ which boasts great things. None of us can claim as a tongue-tamer. With it we bless You. And at another chance, we curse the men, who are made in the image of You.

O forgive me, Lord. I was enjoying this sin. Being so numb with Your alert. Steer my tongue everytime I speak out my words. Let me just open my ears widely, hear Your warning signs and hit the brake.

Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Yakobus 3:2.