Sense of Victory
Sunday, 07.09.08
03:04:07
Sense of victory.
Udah lama gw gak merasakannya. Kamis kemaren gw merasakannya.
Pasalnya, gw diajak untuk ikut tantangan makan ramen super ekstra hot dari sebuah restoran. Kalo berhasil ngabisin (sampe mangkok bersih tanpa sisa kuah) dalam kurun waktu kurang dari 20 menit, kupon makan gratis paket menu seharga 30 ribu perak menjadi milik Anda. Agak bodoh sebenernya. Leher lagi ga enak. Idung lagi meler. Gw uda lama ga buang air besar (ada hubungannya gak sih?). Dan yang terakhir: gw sebenernya gak tahan pedes. Bukan gak suka pedes. Gw suka pedes tertentu. Tapi pedes sambel botol (yang kata Grape itu pedes bo’ong2an). Sambelnya pun perlu merk tertentu. Dua merk sambel yang gw haramkan untuk tercampur di makanan gw adalah sambel cap Jempol (apa Ibu Jari yah? lupa gw) dan cap Belibis (yang ada gambar burungnya dah). Pernah gw mencri-mencri gara-gara makan di Goiza pake sambel Belibis kebanyakan. Gw juga agak anti pake sambel-sambel ulekan. Yang biji cabenya teurai kemana-mana. Pokoknya gw agak ga tahan pedes. Melihat para pendatang yang mukanya biasa aja pas makan dan kupon makan yang menggoda ditambah rekomendasi teman-teman yang bilang itu ga pedes (cuma pedes panas doank katanya), bak peserta Fear Factor yang bernyali, gw menerima tantangan itu. “Super ekstra hot ramen yang beef ya mas!”, pesan gw. Pede. Waiter datang membawa makanan dengan noraknya sambil meneriakkan nama pesenan gw. Setelah mas waiter meniup peluit dan berseru “Ganbatte” 3 kali, pertarungan dimulai. Ramen dijepit. Ditiup. Diembat.
Sruput. Hmm. Hmm. Hmm.
Kok pedes ya?
Pedes. Yak. Pedes. Panas. Sial. Gw merasa bodoh. Bisa-bisanya lo trima ni tantangan. Ambang batas pedes orang kan beda-beda, Nes. Ntar kalo mencri-mencri lagi gimana?! Ntar kalo besok ga masuk gara-gara mencri gimana?! Besok ada pasien gitu! Gawat. Suapan pertama uda bikin lidah menggeliat seakan-akan protes karena dianiaya sama tuannya. Sial. Masih banyak lagi. Masak gw nyerah. Apa gw nyerah aja? Enak aja nyerah! Ga mo rugi donk! Uda kepedesan mempertaruhkan vitalitas sistem pencernaan terus gak dapet apa-apa gitu? No way, man! Kupon paket makanan terpampang jelas di kepala gw. Temen-temen ngetawain dan tetep bilang itu gak pedes. Ada juga yang nyemangatin.
“Ayo, Nes! Kamu bisa!”
“Ciayou! Inget kupon makan gratis, Nes!”
“Belom ada yang kalah loh, Nes!”
“Dikit lagi, Nes! Anggep aja itu kue soes!” (jauh kale!!)
“Minum, minum. Tarik napas! Dorong! Dorong!” (makan apa beranak?)
Yang paling malesin adalah kuahnya yang merah banjir harus gw minum ampe mangkoknya bersih. Enek abis bayanginnya. Pertama masih pake sendok centong. Menit ke-18, gw uda ga tahan karena ga habis-habis. Langsung gw sruput dari mangkoknya yang mirip pispot. Eh, masih pake ketinggalan sisa-sisa ramennya dikit. Kucrut. Menggila bak seorang pegulat WWF, gw bikin licin tu mangkok akhirnya.
Priit. Priit. Priit.
Waiter luar bermain peluit. Waiter dalam menabuh genderang. Duk, duk, duk. Yatta!. Semua teman bersorak. Gw berhasil menaklukkan ramen maksiat itu pada menit ke-19 (rekor paling lama mungkin). Tangan kesemutan. Tisu-tisu penuh ingus (gejala kepedesan gw adalah ingusan) dan bibir jontor menjadi bukti pertarungan sengit antara gw dan ramen. Seumur-umur belom pernah juga makan sesuatu ampe nangis. Badai ramen pedes bergejolak di perut gw. Oh Tuhan, jinakkan ramen ini dalam perutku. Dorongan untuk muntah hampir terlaksana namun tidak berhasil.
Kupon makanan diserahkan oleh mbak waiter sambil bertanya apakah gw perlu minyak angin (takut gw mati keracunan ramen pedes kali ya?). Dengan lunglai, gw menerima kupon berharga itu. Puji Tuhan, abis itu gw ga mencri-mencri walo perut kadang-kadang kontraksi. Besok paginya, gw langsung nyetor. Luwes tanpa mencri. Tanpa sembelit. Menandakan ramen sudah tak berkutik di dalam perut gw.
Pulang ke rumah, gw senyum-senyum sendiri ngeliat tu kupon. Sense of victory. Berhasil ya gw? Bisa juga ya gw walo sepertinya bodoh? Uh-huh. He’s trying to tell me something, eh? Weren’t You?
Well, I do learn something. I associate the ramen challenge with my life. Tiap hari kita pasti ketemu tantangan. And risk is like the air we breathe. It’s everywhere. You can’t avoid it. You’ll find it along your journey of life. FYI, gw termasuk orang yang takut dengan resiko. Also a quitter. Tantangan. Challenge. Hambatan. Road-blockers. I tend to give up whenever I fail many times. Whenever I find those things I’ve mentioned before. And yes, people around you may talk whatever they want to talk. Some sounds so positive. Supportive. Other may sound neutral. Mostly could sound nearly negative or absolutely negative. Some could give you info based on their own experiences. Some words may unintentionally bring you down. Even the sound in your own head could tell you to just give up in some struggling moments of life. Jadi gw belajar, untuk berani ambil resiko no matter apa kata orang lain (especially the negative sounding one). Berani ambil resiko walo gw tau gw punya kelemahan di situ. Walo selalu pasti ada resiko gagal. Because to try is to risk failure aniway. Bukan keyakinan yang membabi buta. Yang hanya bermodal nyali. It is a faith-filled action. Deciding according His guidance. Learning to trust Him perfectly.
Another lesson. Waktu kita jalanin tantangan itu, yah pasti banyak ga enaknya. Banyak rasa “pedes” dan “panas” yang muncul. Gerah. Entah karena apa atau siapa. Pokoknya gak enak. Bahkan kita mungkin pengen nyerah aja gitu. Pengen balik aja ke zona nyaman. Saking capenya. Mungkin. Then I suddenly realize of the power of vision. Kalo gw ga inget kupon makanan, mungkin gw akan quit aja makan tu ramen. So, what’s your “food coupon”? Let it become your booster everytime you want to give up.
Terakhir gw belajar, ada yang lebih dari sebuah kupon makanan. Sense of victory. Perasaan takjub dan heran bisa sampai di titik itu. The point of victory. I call it The Check Point. So, I made it? How come? Gw yang quitter itu? Gw yang dulu suka nyerah? I look up there. Oh, I see. It’s Him. Step by step leading my way graciously. And puts me at that Check Point. I got more than a food coupon. A transformation.
Yah, itulah sense of victory. Gw sudah pernah merasakannya. Dalam hal terkecil. Dalam pergumulan terberat. Dan sekarang sedang berjalan lagi. Berjuang lagi setengah mati. To find another Check Point. And when I get there someday, I’ll joyfully let you know about another victorious stories of mine.
I’m looking forward to hear yours. ![]()
