Thoughts, Words, and Wisdom - A Journal Made by One Yellow Chick


Happy Ending

Sunday, 21.09.08
02:15:03

Sering aku mendengar orang-orang berkata:

“Filmnya jelek nih. Gak happy ending.”
“Kok sedih sih akhirnya?”
“Payah nih endingnya.”

Kita sering penasaran dengan ending sebuah film. Pengen banget tahu akhir ceritanya.

Si bajingan berhasil dibunuh gak yah? Si cewe bakalan pilih yang mana yah? Jagoan gw bakal mati sama musuhnya gak yah? Siapa sih nih penjahat sebenernya? Si cowo pasti bakalan balik sama mantannya.

Kita menebak. Sebagian yakin bisa membaca cerita. Sebagian ragu. Penasaran kita untuk tahu apa akhir film tersebut.

Berakhir bahagia, kita puas. Banyak yang kecewa dengan akhir yang menggantung. Menyayangkan jika berujung pada akhir yang menyedihkan. Dan pada dasarnya, kita punya bayangan akhir yang ideal untuk menutup film tersebut. Ketika sang putri ternyata berpaling cinta dari pangeran. Penjahat masih bertahan setelah ditumpas. Sang ayah malah kehilangan anak yang dikasihinya. Jagoan kita tewas dibunuh musuhnya. Suami menikah lagi, meninggalkan istri yang setia. Justru sang ibu yang menghabisi nyawa anaknya. Padahal, kita punya kerangka cerita kita sendiri. Sebuah akhir yang menurut kita ideal dengan kriteria kita. Sesuai dengan apa yang kita sebut dengan happy ending.

Don’t we treat our life just like the way we think of one ending of movie?

Fairytales. Ah, you know what are their favorite words.

And they live happily ever after.

Film dan dongeng. Kadang seperti sebuah pelarian. Karena hidup tidak selalu berakhir bahagia. Hidup tidak sesuai dengan kriteria kita. Punya akhir yang bermacam-macam. Never will we know about what kind of ending we would have later. Still, we demand one happy ending life for us. Seperti kita mengharapkan akhir yang ideal untuk sebuah film. Lalu kita berusaha untuk mewujudkannya. The pursuit of a happy ending of our own life. Kita mencoba menulis skenario hidup kita. Aku harus kuliah di luar negeri. Jabatan ini harus kudapatkan. Kalau aku jadian sama dia, aku pasti bahagia.

Did you see it? Kita sering tidak puas menjadi penonton sebuah film. Tidak cukup menjadi pemeran utama dalam film kehidupan kita sendiri. Kita punya arahan kita sendiri. Skenario (yang menurut kita) ideal. Jalan cerita dan penutup yang kita mau. Dan ketika hidup tidak sesuai dengan alur yang kita mau, bingunglah kita. It is just not-the-way-it’s-supposed-to-be ending that often happens in our lives.

Mari aku terangkan. Aku juga mengalami hal yang sama. Filmku tidak lebih baik dari film kalian. Namun dalam suatu episode, seorang jagoan muncul. Immanuel namaNya. I shall call Him “The Superhero”. Superman or Batman may haveĀ  their costumes. But my hero left naked when He tried to save every human in this world. Lalu bagaimana kelanjutannya? Well, my life still has those drama and trauma episodes. Yet He rescues me with a weapon called cross, shields me with His precious death-proof blood. His Scripture and my prayer are our communicating devices. You know, like watches on Power Rangers’ hands.

Sejak babak bersejarah itu, saat aku bertemu Sang Jagoan, aku pun sadar. My story is not written by myself. It’s someone greater called God who designs my movie. He owns the production house. The Scriptwriter. Sang Sutradara. The Superhero. Man may plan their own future, but God who directs their steps. Silahkan. Buatlah cerita yang kalian inginkan. Akhir yang kalian harapkan. No prohibition from The Director about planning our future. But let God be God. Let The Director be The Director.

Then what happened with my ending(s)? Well, He has plenty of happy sweet ending scenarios for our lives aniway. The season endings experienced in this planet mostly are unpredictably happy and amazingly sweet preceded by continuous moments of sorrow and agony (as if I won’t have any happy endings anymore). Bahkan saat keputusanku keliru, saat aku memberontak membuat cerita sendiri, saat aku keluar dari alur cerita yang benar. Even at the worst case scenario, He miraculuously could change the ruined story into a happy ending epsiode.

Satu hal yang sekarang aku tahu dengan pasti. Before I met this Immanuel man, I got blank thinking of how this life would end up. Now, one thing for sure, He gave me one hint about my final episode of my life.

For God so loved the world, that He gave His one and only Son, that whoever believes in Him should not perish, but have eternal life. (John 3:16)

Eternal life. So, may I call it - “and I shall live happily ever after”?

Eternal life. Any other better ending?


Sense of Victory

Sunday, 07.09.08
03:04:07

Sense of victory.

Udah lama gw gak merasakannya. Kamis kemaren gw merasakannya.

Pasalnya, gw diajak untuk ikut tantangan makan ramen super ekstra hot dari sebuah restoran. Kalo berhasil ngabisin (sampe mangkok bersih tanpa sisa kuah) dalam kurun waktu kurang dari 20 menit, kupon makan gratis paket menu seharga 30 ribu perak menjadi milik Anda. Agak bodoh sebenernya. Leher lagi ga enak. Idung lagi meler. Gw uda lama ga buang air besar (ada hubungannya gak sih?). Dan yang terakhir: gw sebenernya gak tahan pedes. Bukan gak suka pedes. Gw suka pedes tertentu. Tapi pedes sambel botol (yang kata Grape itu pedes bo’ong2an). Sambelnya pun perlu merk tertentu. Dua merk sambel yang gw haramkan untuk tercampur di makanan gw adalah sambel cap Jempol (apa Ibu Jari yah? lupa gw) dan cap Belibis (yang ada gambar burungnya dah). Pernah gw mencri-mencri gara-gara makan di Goiza pake sambel Belibis kebanyakan. Gw juga agak anti pake sambel-sambel ulekan. Yang biji cabenya teurai kemana-mana. Pokoknya gw agak ga tahan pedes. Melihat para pendatang yang mukanya biasa aja pas makan dan kupon makan yang menggoda ditambah rekomendasi teman-teman yang bilang itu ga pedes (cuma pedes panas doank katanya), bak peserta Fear Factor yang bernyali, gw menerima tantangan itu. “Super ekstra hot ramen yang beef ya mas!”, pesan gw. Pede. Waiter datang membawa makanan dengan noraknya sambil meneriakkan nama pesenan gw. Setelah mas waiter meniup peluit dan berseru “Ganbatte” 3 kali, pertarungan dimulai. Ramen dijepit. Ditiup. Diembat.

Sruput. Hmm. Hmm. Hmm.

Kok pedes ya?

Pedes. Yak. Pedes. Panas. Sial. Gw merasa bodoh. Bisa-bisanya lo trima ni tantangan. Ambang batas pedes orang kan beda-beda, Nes. Ntar kalo mencri-mencri lagi gimana?! Ntar kalo besok ga masuk gara-gara mencri gimana?! Besok ada pasien gitu! Gawat. Suapan pertama uda bikin lidah menggeliat seakan-akan protes karena dianiaya sama tuannya. Sial. Masih banyak lagi. Masak gw nyerah. Apa gw nyerah aja? Enak aja nyerah! Ga mo rugi donk! Uda kepedesan mempertaruhkan vitalitas sistem pencernaan terus gak dapet apa-apa gitu? No way, man! Kupon paket makanan terpampang jelas di kepala gw. Temen-temen ngetawain dan tetep bilang itu gak pedes. Ada juga yang nyemangatin.

“Ayo, Nes! Kamu bisa!”
“Ciayou! Inget kupon makan gratis, Nes!”
“Belom ada yang kalah loh, Nes!”
“Dikit lagi, Nes! Anggep aja itu kue soes!” (jauh kale!!)
“Minum, minum. Tarik napas! Dorong! Dorong!” (makan apa beranak?)

Yang paling malesin adalah kuahnya yang merah banjir harus gw minum ampe mangkoknya bersih. Enek abis bayanginnya. Pertama masih pake sendok centong. Menit ke-18, gw uda ga tahan karena ga habis-habis. Langsung gw sruput dari mangkoknya yang mirip pispot. Eh, masih pake ketinggalan sisa-sisa ramennya dikit. Kucrut. Menggila bak seorang pegulat WWF, gw bikin licin tu mangkok akhirnya.

Priit. Priit. Priit.

Waiter luar bermain peluit. Waiter dalam menabuh genderang. Duk, duk, duk. Yatta!. Semua teman bersorak. Gw berhasil menaklukkan ramen maksiat itu pada menit ke-19 (rekor paling lama mungkin). Tangan kesemutan. Tisu-tisu penuh ingus (gejala kepedesan gw adalah ingusan) dan bibir jontor menjadi bukti pertarungan sengit antara gw dan ramen. Seumur-umur belom pernah juga makan sesuatu ampe nangis. Badai ramen pedes bergejolak di perut gw. Oh Tuhan, jinakkan ramen ini dalam perutku. Dorongan untuk muntah hampir terlaksana namun tidak berhasil.

Kupon makanan diserahkan oleh mbak waiter sambil bertanya apakah gw perlu minyak angin (takut gw mati keracunan ramen pedes kali ya?). Dengan lunglai, gw menerima kupon berharga itu. Puji Tuhan, abis itu gw ga mencri-mencri walo perut kadang-kadang kontraksi. Besok paginya, gw langsung nyetor. Luwes tanpa mencri. Tanpa sembelit. Menandakan ramen sudah tak berkutik di dalam perut gw.

Pulang ke rumah, gw senyum-senyum sendiri ngeliat tu kupon. Sense of victory. Berhasil ya gw? Bisa juga ya gw walo sepertinya bodoh? Uh-huh. He’s trying to tell me something, eh? Weren’t You?

Well, I do learn something. I associate the ramen challenge with my life. Tiap hari kita pasti ketemu tantangan. And risk is like the air we breathe. It’s everywhere. You can’t avoid it. You’ll find it along your journey of life. FYI, gw termasuk orang yang takut dengan resiko. Also a quitter. Tantangan. Challenge. Hambatan. Road-blockers. I tend to give up whenever I fail many times. Whenever I find those things I’ve mentioned before. And yes, people around you may talk whatever they want to talk. Some sounds so positive. Supportive. Other may sound neutral. Mostly could sound nearly negative or absolutely negative. Some could give you info based on their own experiences. Some words may unintentionally bring you down. Even the sound in your own head could tell you to just give up in some struggling moments of life. Jadi gw belajar, untuk berani ambil resiko no matter apa kata orang lain (especially the negative sounding one). Berani ambil resiko walo gw tau gw punya kelemahan di situ. Walo selalu pasti ada resiko gagal. Because to try is to risk failure aniway. Bukan keyakinan yang membabi buta. Yang hanya bermodal nyali. It is a faith-filled action. Deciding according His guidance. Learning to trust Him perfectly.

Another lesson. Waktu kita jalanin tantangan itu, yah pasti banyak ga enaknya. Banyak rasa “pedes” dan “panas” yang muncul. Gerah. Entah karena apa atau siapa. Pokoknya gak enak. Bahkan kita mungkin pengen nyerah aja gitu. Pengen balik aja ke zona nyaman. Saking capenya. Mungkin. Then I suddenly realize of the power of vision. Kalo gw ga inget kupon makanan, mungkin gw akan quit aja makan tu ramen. So, what’s your “food coupon”? Let it become your booster everytime you want to give up.

Terakhir gw belajar, ada yang lebih dari sebuah kupon makanan. Sense of victory. Perasaan takjub dan heran bisa sampai di titik itu. The point of victory. I call it The Check Point. So, I made it? How come? Gw yang quitter itu? Gw yang dulu suka nyerah? I look up there. Oh, I see. It’s Him. Step by step leading my way graciously. And puts me at that Check Point. I got more than a food coupon. A transformation.

Yah, itulah sense of victory. Gw sudah pernah merasakannya. Dalam hal terkecil. Dalam pergumulan terberat. Dan sekarang sedang berjalan lagi. Berjuang lagi setengah mati. To find another Check Point. And when I get there someday, I’ll joyfully let you know about another victorious stories of mine.

I’m looking forward to hear yours. :)