Dealing With The Invisible Divine
Kamis, 12 Maret 2009
00:54:14
Dicari:
Seorang Tuhan. Tuhan yang bisa kudengar. Bisa kujamah. Bisa kulihat.
Dimanakah? Where is he?
Sometimes, I was Thomas. The one who needs one touch to believe. One visible living proof. Yes, we are skeptical human. We don’t like uncertainties.
Salah satu temanku pernah bertanya, “Dimana itu Tuhan?”. Sambil menyengir dan mengintip ke kolong meja.
Sad to hear that because I know You’re there. I just wish You would have somehow appeared that time. Anyhow? Yet, nothing happened.
I just envy Moses. Abraham. As if they had an audible God. You talked in one language they could understand. Would faith be easier at those days?
I covet those kids who were freely running onto You. Being blessed by Your fragile hands. May I also rinse Your feet like Mary ever done to You?
I don’t know. I got this trust issue. Of many things related to You. Your existence. Presence. Your guidance. Providence.
Am I wrong? Disrespectful? Karena aku tahu aku memintaMu untuk muncul dalam jangkauan pancaindraku. Bisakah? Pernahkah? Can You come again into this world?
Forgive me for being rude. It may sound unmannerly. But I know You can hear far deep within my soul. That the soul cries, longing for You.
Do You hear that?
I just miss You, my God.
1000++ Equals Zero
Minggu, 1 Februari 2009
02:14:06
Beberapa waktu yang lalu salah satu temen gw berulang tahun. Singgah sebentar ke facebooknya dengan maksud menyalami selamat ulang tahun. Ada hal yang cukup membuat gw kaget. Tertegun. Jumlah temen facebooknya sekitar 1000an lebih. Busyet. Gaul banget yah ni orang. 1000an lebih. 1000an plus plus. Temen dari mana aja tuh. Jebol aja tu ceceng.
Tapi bukan itu yang membuat gw sampe tertegun dengan bilangan tersebut. Bukan jumlah nominalnya. Tapi karena gw inget dia pernah bilang:
Gw ngerasa anak-anak ngejauhin gw, Nes. Gw ngerasa uda deketin mereka tapi mereka malah kayak menjauh dari gw.
Ironikah? (ngomong-ngomong gw suka dengan kata “ironi” belakangan ini karena kata itu bikin kita mikir ![]()
Can’t you hear it? The implicit voice of one soul. Yeap. A voice of loneliness.
Gw tertegun karena gw tahu, bilangan 1000 belum tentu bisa mengisi satu ruangan yang kosong. Satu ruangan di hati dia yang berbisik kesepian. Satu ruangan yang mungkin makin kesakitan saat bilangan itu semakin bertambah. The bigger the number, the lonelier he might get then.
Tapi ruangan itu minta diisi!
Makanya dia mencari. Makanya dia mendekat. Makanya dia berjuang keras. Tanpa tuntunan yang jelas. Agak kabur. Melenceng. Dia berkelana. Dari sini ke sana. Dari sana ke situ. Berpikir sepi itu bisa enyah dan ruangan itu tidak hampa lagi. Berharap teman yang baru, tempat yang baru, bisa menyelesaikan masalah kronisnya.
Selesaikah? Entahlah. Mungkin ruangan itu sudah terisi sekarang. Gw harap bukan oleh hal semu seperti yang pernah (atau sering?) dialaminya. Kepenuhan semu yang mudah menguap dengan kekecewaan yang dia ceritakan. And that disappointment could be more painful than the loneliness he has. Or it might just exacerbate it.
Apa yang salah? His self-medication attempts? Wrong curing-methods?
Apa yang membuat dia kesepian? His family? His past? This world?
Siapa yang salah? Dia? His attitude? His friends? Siapa? Mereka? Kamu? Kalian?
Saya?
Dunno. Gw cuma bisa berdoa buat dia secara gw emang gak deket-deket banget sama dia. Berdoa buat penyertaan Tuhan di tahun-tahun kehidupannya. Biar gak terus-menerus terjebak dalam kesemuan dan kehampaan. Dan semoga dia bisa tahu bagaimana menemukan pengisi ruangan itu. Pengisi yang sejati. Yang benar dan ampuh.
Aniway, kita semua pernah punya ruangan macam itu kan? Kita semua pernah atau memang seperti dia kan? Kita pikir, “Ini dia solusinya!”. Tapi kekecewaan mengguyur luntur harapan kita. Kita pikir dada ini gak akan kopong lagi. “Sudah terisi!” seru kita. Kita pikir. Namun kita rasa. Kita rasa dan rasanya memang ruangan itu masih kosong. Ternyata kita masih sakit dalam kesepian. Kita belum sembuh. Dan sama seperti temen gw itu, kita terjebak dalam usaha pengisian ruangan yang berulang-ulang, namun justru berakhir dengan kekecewaan yang makin dalam.
And, yes, I’ve been there. Thankfully, Someone ended this vicious cycle. This heart finally fully-fullfilled. Kekecewaan masih berkeliaran dan tetap muncul sih. Pastinya. Tapi kataNya: “Buat apa sih masih dipikirin? Kalo ruangan udah diisi penuh sama Aku, kenapa masih kasi tempat sama ‘kekecewaan’? Udah deh, biar Aku yang buang ‘kekecewaan’ itu. Aku ganti ya sama yang lain.”
And He absolutely knows what other greater, better word that should have replaced “disappointment” for a long time ago. You might get confused here. He put His own name as a substitute. It is written in LOVE. But it is spelled IMMANUEL. Me also get bewildered. But then I remember what John already said.
….God is love. (1 John 4:8b)
So, any room need to be fulfilled?
The thought of You stirs him so deeply that he cannot be content unless he praises You, because You made us for Yourself and our hearts find no peace until they rest in You.
-Augustine-
There is a God-shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus.
-Blaise Pascal-
Sebuah Pulau Bernama Kedokteran Gigi
Hahaha. Ini juga postingan lama gw. Waktu itu gw lagi merasa terdampar. Benar-benar terdampar. Petualangan sih masih berlangsung. Yah semoga aja sekian sekian tahun kemudian gw bisa baca post ini lagi sambil senyum-senyum geli-geli jijay malu gitu deh. Hehehe. Enjoy. ![]()
Senin, 30 Juni 2008
Aku tidak pernah mengerti bagaimana Tuhan memimpin jalanku.
Dokter gigi. Tidak sepintaspun aku pernah memikirkannya. Dokter gigi. Aku? Dokter gigi?
Dengan keteledoranku. Dengan kemalasanku. Dengan kekuranganku. Modal apa yang kupunya?
Not even a hint I knew about this toothy thing!
Namun, aku bertahan di sini. Ya, bertahan di pulau asing ini. Bertahan 4 tahun lebih.
Tuhan, mau ke mana? Kau mau bawa aku ke mana? Perjalanan ini tampak remang. Amat remang.
Aku bergumul. Mencari tahu maksudMu. KehendakMu. Namun apa yang kudapat? Nihil. Tidak secuilpun aku makin mengerti perjalanan hidupku. Masa depanku.
Aku bergumul. Berpikir dengan keras. Berpikir hingga lelah. Dan semuanya itu sia-sia.
Aku bertanya kembali. Apakah aku salah jalan? Apa aku perlu mundur? Apa aku perlu memilih jalan lain? Putar balik? Maju terus?
Aku melihat temanku. Dengan jalan yang ia pilih (atau jalan yang ia pun tidak mengerti?). Kelihatannya menyenangkan. Kelihatannya sesuai dengan diriku.
Seorang guru. Bekerja bersama mereka, anak-anak itu, yang dunianya penuh dengan warna. Menjadi teman bagi anak-anak itu. Mendengarkan ketika mereka bercerita. Membagikan hikmat yang Tuhan ajarkan kepada mereka. Begitu nyaman aku membayangkannya. Guru biologi. Guru bahasa inggris. Aku suka keduanya karena aku boleh sedikit sombong di bidang ini.
Pikiranku buyar dan beralih ke pikiran lain. Aku suka membaca. Aku suka berpikir. Aku suka menghasilkan sesuatu lewat pikiranku. Buah pena. Tulisan. Kata-kata. Bukan sembarang kata-kata. Sebuah rangkaian yang menguatkan. Sebuah untaian yang menyejukkan setiap orang yang membacanya. Betapa nyaman aku memikirkannya.
Imajinasiku berkeliaran sementara tubuh ini terdampar di sebuah pulau asing bernama Kedokteran Gigi.
Jadi, siapa yang membawaku ke pulau ini?
Tuhan. Ya, siapa lagi. Mengapa? Entah. Sampai kapan? Entah. Haruskah aku mundur? Jangan. Putar balik? Tidak perlu.
Ya, mengapa aku harus mundur? Mengapa harus putar balik? Pulau ini telah mengajarkan banyak hal padaku bukan? Amat banyak. Empat tahun di pulau ini. Tidakkah berarti apa-apa bagiku sampai aku begitu ingin mundur?
Dengan tegas, Ia berkata: “Selesaikan perjalananmu, Nak. Hanya taat dan percaya padaKu. Aku akan membawamu ke panggilanmu. Namun, selesaikan dulu perjalananmu di sini denganKu. Jangan berpikir ini bukan bagian dari rute menuju panggilanmu. Pulau ini pun termasuk rute menuju panggilanmu.”
Dengan pelan, aku menjawab: “Ya Tuhan, aku mengerti. Banyak hal yang masih tak kumengerti. Namun, biar aku mengerti hal-hal yang menjadi bagianku. Taat dan percaya. Pimpin aku menuju panggilanmu. Ijinkan aku menikmati pulau ini. Menikmatinya bersama-Mu.”
Aku menyudahi perhentianku. Mengangkat kepalaku. Melanjutkan perjalananku kembali di pulau ini.
The journey continues…
Diamkan, Tenangkan, Ingatkan, Kuatkan…
Di bawah ini adalah postingan gw yang uda lama banget. Gak tau kenapa gak langsung gw publish. Posting ini emang berbentuk doa. Jeritan hati saat itu buat Yang Di Atas. Waktu itu gw lagi sumuk-sumuknya sama klinik (like usual). Sama pelayanan. Lagi pusing sama seseorang. Pokoknya lagi ENEK. Hahaha. Gw masih inget kalo dulu gw pernah berhasrat untuk punya hidup yang tenang. Tanpa konflik. Ojo neko neko. Apparently, that is nonsense. Bullshit. Mau hidup tenang? Tanpa masalah? Then go to die. Hidup sendiri adalah masalah. So live and enjoy with it. Some questions emerged while I was reading this post. Darimana asal kata Apparently itu? Sejak kapan gw berubah konsep? Kok bisa? And there will always come one great gratitude to end up those questions. Yes, it’s Him. He who works on this transformation. Providing grace by grace for each wobbly step I take. Filling this head with this wisdom. Strengthening this soul with His words.
Siapa yang sangka jeritan hati bisa berubah jadi pengumbar senyum di kemudian hari?
Dan semoga jeritan ini boleh menguatkan gw kalo suatu hari nanti gw akan menjerit (lagi). Hehehe.
Minggu, 20 April 2008
19:12:46
Tuhan, kadang aku ingin hidup dengan tenang.
Benar-benar tenang, Tuhan.
Tak mau sibuk. Tak mau pusing. Hanya menikmati hari bersama Engkau.
Tak mau melihat konflik di tengah jalan.
Tenang. Benar-benar tenang.
Tak mungkin. Aku tahu itu tak mungkin.
Dan aku tahu. Betapa pengecutnya hidup seperti itu. Betapa pemalasnya hidup seperti itu. Aku terlalu mengingini hal itu. Berdosakah aku, Tuhan?
Tuhan, aku bergumul setiap hari. Kadang aku menikmatinya. Kadang aku lupa untuk menikmati pergumulan itu. Kadang aku mengeluh sedemikian keras. Begitu manja.
Tuhan, bagaimana ini? Aku bergumul dalam pelayananku. Bingung menolak apa yang harus kutolak. Bingung menentukan fokusku sendiri. Begitu mudah patah semangat melihat kondisi “pekerja-pekerjaMu”. Tuhan, tolong. Aku menangis untuk pekerjaanMu, Tuhan. Entah apa yang harus kulakukan dalam pelayanan ini. I’m lost in this service, God. Clueless. Aku hanya bisa berseru dan mengadu padaMu. Ingin dikuatkan. Ingin dibakar dengan semangatMu. Ingin tahu apa yang Kau perintahkan untuk aku laksanakan. I am so damn clueless, God. Aku takut menjadi batu sandungan bagi pekerjaanMu. Jangan, Tuhan. Aku mohon. Jangan biarkan pekerjaanMu rusak oleh tangan anakMu ini.
Tuhan, aku menangis lagi. Jangan biarkan air mata ini melemahkan aku, Tuhan. Jangan.
Tuhan, aku takut. Melampaui batas itu. Di mana logika membisu dan tumpul. Takluk oleh perasaan. Tuhan, aku pernah mengalami hal itu. Aku tak mau mengulanginya lagi. Aku mau dikendalikan olehMu saja. Tuhan, aku lemah. Aku bergumul. Aku berjuang. Tuhan, berikan aku rasa aman itu. Tentramkan hati yang galau ini. Yang liar dengan pikiran-pikirannya. Yang mudah kalut dengan hembusan-hembusan si jahat. Tuhan, tolong. Aku berdoa untuk orang ini. Hanya satu kerinduanku. MengasihiMu. Menyenangkan hatiMu. Mempersembahkan seluruh hidupku hanya bagiMu. Jikalau hubunganku dengannya malah membuatku semakin jauh dariMu, Tuhan, aku mohon, matikan perasaan ini dengan apapun caranya. Tolong aku untuk semakin mengasihiMu.
Tuhan, setiap hari raksasa itu selalu muncul. Dosen yang keras. Teman yang semakin sibuk. Teman yang egois. Ayah yang keras kepala. Dan masih banyak lagi. Terlalu banyakkah aku menghitung, Tuhan? Oh, masih ada lagi. Segala kekurangan yang ada dalam diriku. Masa depan yang tidak tentu. Aku menjadi raksasa bagi diriku sendri. Oh, Tuhan, terlalu berlebihankah aku memandang raksasa-raksasa itu? Ya, terlalu berlebihan. Keterlaluan. Keterlaluan bodohnya aku ini. Keterlaluan rabunnya aku ini. Bagaimana mungkin tangan Bapa yang Mahakuasa itu, yang kekuatanNya jauh jauh jauh melampaui raksasa-raksasa itu, bisa tidak terlihat? Tuhan, celikkan mataku. Bagaimana mungkin semua pengalaman saat Kau menjagaku, aku lupakan begitu saja? Tuhan, ingatkan aku!
Tuhan, diamkan aku! Tenangkan aku! Aku mau menutup mata pada sosok raksasa itu dan hanya mau melihat pekerjaan tanganMu. Aku mau menutup telinga dari geraman raksasa itu dan hanya mau mendengar suaraMu. Aku mau hidup di dalam terang pimpinanMu. Bukan di bawah bayang-bayang mereka. Ijinkan aku menghujamkan sauhku di atas FirmanMu sampai dengan teguh aku boleh bangkit. Berjalan kembali bersamaMu dan berkata: “Mari Tuhan, kita kalahkan raksasa-raksasa itu!”.
Diamkan, tenangkan. Ingatkan dan kuatkan aku, ya Tuhan.
Dirty Little Tongue
Serpong
Rabu, 5 November 2008
23:10:35
Human just love to talk about others. Gossip. Anything contains of negative issues. We just love to talk about it. Enjoy to boast about it. Hate to say, it’s a woman’s favorite subject. Jarang lelaki punya hobi seperti ini. Ya. Jarang. Namun ada. Belakangan aku menikmatinya. These are the triggers.
“Eh, ada berita baru.”
“Lu tau gak si X.”
“Katanya sih dia emang gitu orangnya.”
And, so on. You may make your own verses. Oh, gosh.
Dulu, aku pernah curiga dengan mereka. Mereka yang sering tertawa denganku. Mereka yang kutemui hampir setiap hari. Apa mereka ikut ngomongin gw? Apa mereka juga ngomongin gw di belakang? Dan menyakitkan jika kecurigaan itu terbukti. The one who often laughs with you is the one who also talks behind your back. It hurts.
And now, I become those whom I usually call “Backstabbers“. What a guilt that strikes me back. Mulut bergerak tanpa kekang. Perkataan meluncur tanpa rem. Aku lupa akan luka itu. Aku menoreh luka mereka diam-diam.
Aku gak ngerti. Kita tuh gampang banget nget nget kepancing buat ngomongin kejelekan orang (mikir aja kita tuh siapa). It’s like our nature. Automatic. Our great tendencies to look at others’ flaws. Tidak mudah mata ini melihat apa yang baik. Bukan begitu? We’re so attracted with those crappy infotainment shows. Scandalicious story appeases us. One America drama series about bunch of girls gosipping and backstabbing each others emphasizes the reality of this ugly habit. We’re easily to stuck with others’ fault. Kita seperti kompor hidup. Kita senang menambahkan bumbu yang tak perlu. And while we’re doing these, our self-reflection mirrors become so blur. Our eyes got blocked. Entah terhalang oleh apa. Self-righteousness? Jealousy? Hatred? The thought of we’re-better-than-the-one-we’re-being-talked-about? You name it. You know the dirt of your own mind, do you? Seperti kata Yohan Candawasa, kita lebih sering melihat apa yang ada di luar diri kita. Menilainya sesuka hati kita. And, we rarely looking deep into our own heart. Kita sibuk dengan selumbar di mata orang lain. Yet, we hardly see that there’s a big wooden block in our own eyes. What a dirty heart. Filthy mouth. Uncontrollable tongue. The nature of this sinful creature.
You’re right, God. Tongue is a fire. Small organ which boasts great things. None of us can claim as a tongue-tamer. With it we bless You. And at another chance, we curse the men, who are made in the image of You.
O forgive me, Lord. I was enjoying this sin. Being so numb with Your alert. Steer my tongue everytime I speak out my words. Let me just open my ears widely, hear Your warning signs and hit the brake.
Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Yakobus 3:2.
aku takut
aku takut sama tikus…sungguh
aku takut sama abang-abang di malam hari…
aku takut sama orang gila…
aku takut nonton film horror..
aku takut sama boneka susan yang bisa ngomong…
aku takut kalo liat ke dalam laut…
aku takut kalo di dalam laut…
aku takut sama papa kalo lagi marah…
aku takut kalo temenku marah…
aku takut sama takutku sendiri…
aku takut kalo lagi panik…
aku takut lalu kuatir…
aku takut jatuh…
aku takut lalu jatuh…tenggelam…
aku takut digoda setan…
aku takut gagal…dulu…sekarang aku berteman dengannya…
aku terlalu banyak takut…
aku takut mengambil resiko…
aku takut masa depan…
aku takut masa lalu…
aku takut sama Tuhan…tapi aku suka lupa kalo aku takut sama Dia…
kalo kamu?
kalo kamu takut apa, teman? takut siapa?
Happy Ending
Sunday, 21.09.08
02:15:03
Sering aku mendengar orang-orang berkata:
“Filmnya jelek nih. Gak happy ending.”
“Kok sedih sih akhirnya?”
“Payah nih endingnya.”
Kita sering penasaran dengan ending sebuah film. Pengen banget tahu akhir ceritanya.
Si bajingan berhasil dibunuh gak yah? Si cewe bakalan pilih yang mana yah? Jagoan gw bakal mati sama musuhnya gak yah? Siapa sih nih penjahat sebenernya? Si cowo pasti bakalan balik sama mantannya.
Kita menebak. Sebagian yakin bisa membaca cerita. Sebagian ragu. Penasaran kita untuk tahu apa akhir film tersebut.
Berakhir bahagia, kita puas. Banyak yang kecewa dengan akhir yang menggantung. Menyayangkan jika berujung pada akhir yang menyedihkan. Dan pada dasarnya, kita punya bayangan akhir yang ideal untuk menutup film tersebut. Ketika sang putri ternyata berpaling cinta dari pangeran. Penjahat masih bertahan setelah ditumpas. Sang ayah malah kehilangan anak yang dikasihinya. Jagoan kita tewas dibunuh musuhnya. Suami menikah lagi, meninggalkan istri yang setia. Justru sang ibu yang menghabisi nyawa anaknya. Padahal, kita punya kerangka cerita kita sendiri. Sebuah akhir yang menurut kita ideal dengan kriteria kita. Sesuai dengan apa yang kita sebut dengan happy ending.
Don’t we treat our life just like the way we think of one ending of movie?
Fairytales. Ah, you know what are their favorite words.
And they live happily ever after.
Film dan dongeng. Kadang seperti sebuah pelarian. Karena hidup tidak selalu berakhir bahagia. Hidup tidak sesuai dengan kriteria kita. Punya akhir yang bermacam-macam. Never will we know about what kind of ending we would have later. Still, we demand one happy ending life for us. Seperti kita mengharapkan akhir yang ideal untuk sebuah film. Lalu kita berusaha untuk mewujudkannya. The pursuit of a happy ending of our own life. Kita mencoba menulis skenario hidup kita. Aku harus kuliah di luar negeri. Jabatan ini harus kudapatkan. Kalau aku jadian sama dia, aku pasti bahagia.
Did you see it? Kita sering tidak puas menjadi penonton sebuah film. Tidak cukup menjadi pemeran utama dalam film kehidupan kita sendiri. Kita punya arahan kita sendiri. Skenario (yang menurut kita) ideal. Jalan cerita dan penutup yang kita mau. Dan ketika hidup tidak sesuai dengan alur yang kita mau, bingunglah kita. It is just not-the-way-it’s-supposed-to-be ending that often happens in our lives.
Mari aku terangkan. Aku juga mengalami hal yang sama. Filmku tidak lebih baik dari film kalian. Namun dalam suatu episode, seorang jagoan muncul. Immanuel namaNya. I shall call Him “The Superhero”. Superman or Batman may have their costumes. But my hero left naked when He tried to save every human in this world. Lalu bagaimana kelanjutannya? Well, my life still has those drama and trauma episodes. Yet He rescues me with a weapon called cross, shields me with His precious death-proof blood. His Scripture and my prayer are our communicating devices. You know, like watches on Power Rangers’ hands.
Sejak babak bersejarah itu, saat aku bertemu Sang Jagoan, aku pun sadar. My story is not written by myself. It’s someone greater called God who designs my movie. He owns the production house. The Scriptwriter. Sang Sutradara. The Superhero. Man may plan their own future, but God who directs their steps. Silahkan. Buatlah cerita yang kalian inginkan. Akhir yang kalian harapkan. No prohibition from The Director about planning our future. But let God be God. Let The Director be The Director.
Then what happened with my ending(s)? Well, He has plenty of happy sweet ending scenarios for our lives aniway. The season endings experienced in this planet mostly are unpredictably happy and amazingly sweet preceded by continuous moments of sorrow and agony (as if I won’t have any happy endings anymore). Bahkan saat keputusanku keliru, saat aku memberontak membuat cerita sendiri, saat aku keluar dari alur cerita yang benar. Even at the worst case scenario, He miraculuously could change the ruined story into a happy ending epsiode.
Satu hal yang sekarang aku tahu dengan pasti. Before I met this Immanuel man, I got blank thinking of how this life would end up. Now, one thing for sure, He gave me one hint about my final episode of my life.
For God so loved the world, that He gave His one and only Son, that whoever believes in Him should not perish, but have eternal life. (John 3:16)
Eternal life. So, may I call it - “and I shall live happily ever after”?
Eternal life. Any other better ending?
Sense of Victory
Sunday, 07.09.08
03:04:07
Sense of victory.
Udah lama gw gak merasakannya. Kamis kemaren gw merasakannya.
Pasalnya, gw diajak untuk ikut tantangan makan ramen super ekstra hot dari sebuah restoran. Kalo berhasil ngabisin (sampe mangkok bersih tanpa sisa kuah) dalam kurun waktu kurang dari 20 menit, kupon makan gratis paket menu seharga 30 ribu perak menjadi milik Anda. Agak bodoh sebenernya. Leher lagi ga enak. Idung lagi meler. Gw uda lama ga buang air besar (ada hubungannya gak sih?). Dan yang terakhir: gw sebenernya gak tahan pedes. Bukan gak suka pedes. Gw suka pedes tertentu. Tapi pedes sambel botol (yang kata Grape itu pedes bo’ong2an). Sambelnya pun perlu merk tertentu. Dua merk sambel yang gw haramkan untuk tercampur di makanan gw adalah sambel cap Jempol (apa Ibu Jari yah? lupa gw) dan cap Belibis (yang ada gambar burungnya dah). Pernah gw mencri-mencri gara-gara makan di Goiza pake sambel Belibis kebanyakan. Gw juga agak anti pake sambel-sambel ulekan. Yang biji cabenya teurai kemana-mana. Pokoknya gw agak ga tahan pedes. Melihat para pendatang yang mukanya biasa aja pas makan dan kupon makan yang menggoda ditambah rekomendasi teman-teman yang bilang itu ga pedes (cuma pedes panas doank katanya), bak peserta Fear Factor yang bernyali, gw menerima tantangan itu. “Super ekstra hot ramen yang beef ya mas!”, pesan gw. Pede. Waiter datang membawa makanan dengan noraknya sambil meneriakkan nama pesenan gw. Setelah mas waiter meniup peluit dan berseru “Ganbatte” 3 kali, pertarungan dimulai. Ramen dijepit. Ditiup. Diembat.
Sruput. Hmm. Hmm. Hmm.
Kok pedes ya?
Pedes. Yak. Pedes. Panas. Sial. Gw merasa bodoh. Bisa-bisanya lo trima ni tantangan. Ambang batas pedes orang kan beda-beda, Nes. Ntar kalo mencri-mencri lagi gimana?! Ntar kalo besok ga masuk gara-gara mencri gimana?! Besok ada pasien gitu! Gawat. Suapan pertama uda bikin lidah menggeliat seakan-akan protes karena dianiaya sama tuannya. Sial. Masih banyak lagi. Masak gw nyerah. Apa gw nyerah aja? Enak aja nyerah! Ga mo rugi donk! Uda kepedesan mempertaruhkan vitalitas sistem pencernaan terus gak dapet apa-apa gitu? No way, man! Kupon paket makanan terpampang jelas di kepala gw. Temen-temen ngetawain dan tetep bilang itu gak pedes. Ada juga yang nyemangatin.
“Ayo, Nes! Kamu bisa!”
“Ciayou! Inget kupon makan gratis, Nes!”
“Belom ada yang kalah loh, Nes!”
“Dikit lagi, Nes! Anggep aja itu kue soes!” (jauh kale!!)
“Minum, minum. Tarik napas! Dorong! Dorong!” (makan apa beranak?)
Yang paling malesin adalah kuahnya yang merah banjir harus gw minum ampe mangkoknya bersih. Enek abis bayanginnya. Pertama masih pake sendok centong. Menit ke-18, gw uda ga tahan karena ga habis-habis. Langsung gw sruput dari mangkoknya yang mirip pispot. Eh, masih pake ketinggalan sisa-sisa ramennya dikit. Kucrut. Menggila bak seorang pegulat WWF, gw bikin licin tu mangkok akhirnya.
Priit. Priit. Priit.
Waiter luar bermain peluit. Waiter dalam menabuh genderang. Duk, duk, duk. Yatta!. Semua teman bersorak. Gw berhasil menaklukkan ramen maksiat itu pada menit ke-19 (rekor paling lama mungkin). Tangan kesemutan. Tisu-tisu penuh ingus (gejala kepedesan gw adalah ingusan) dan bibir jontor menjadi bukti pertarungan sengit antara gw dan ramen. Seumur-umur belom pernah juga makan sesuatu ampe nangis. Badai ramen pedes bergejolak di perut gw. Oh Tuhan, jinakkan ramen ini dalam perutku. Dorongan untuk muntah hampir terlaksana namun tidak berhasil.
Kupon makanan diserahkan oleh mbak waiter sambil bertanya apakah gw perlu minyak angin (takut gw mati keracunan ramen pedes kali ya?). Dengan lunglai, gw menerima kupon berharga itu. Puji Tuhan, abis itu gw ga mencri-mencri walo perut kadang-kadang kontraksi. Besok paginya, gw langsung nyetor. Luwes tanpa mencri. Tanpa sembelit. Menandakan ramen sudah tak berkutik di dalam perut gw.
Pulang ke rumah, gw senyum-senyum sendiri ngeliat tu kupon. Sense of victory. Berhasil ya gw? Bisa juga ya gw walo sepertinya bodoh? Uh-huh. He’s trying to tell me something, eh? Weren’t You?
Well, I do learn something. I associate the ramen challenge with my life. Tiap hari kita pasti ketemu tantangan. And risk is like the air we breathe. It’s everywhere. You can’t avoid it. You’ll find it along your journey of life. FYI, gw termasuk orang yang takut dengan resiko. Also a quitter. Tantangan. Challenge. Hambatan. Road-blockers. I tend to give up whenever I fail many times. Whenever I find those things I’ve mentioned before. And yes, people around you may talk whatever they want to talk. Some sounds so positive. Supportive. Other may sound neutral. Mostly could sound nearly negative or absolutely negative. Some could give you info based on their own experiences. Some words may unintentionally bring you down. Even the sound in your own head could tell you to just give up in some struggling moments of life. Jadi gw belajar, untuk berani ambil resiko no matter apa kata orang lain (especially the negative sounding one). Berani ambil resiko walo gw tau gw punya kelemahan di situ. Walo selalu pasti ada resiko gagal. Because to try is to risk failure aniway. Bukan keyakinan yang membabi buta. Yang hanya bermodal nyali. It is a faith-filled action. Deciding according His guidance. Learning to trust Him perfectly.
Another lesson. Waktu kita jalanin tantangan itu, yah pasti banyak ga enaknya. Banyak rasa “pedes” dan “panas” yang muncul. Gerah. Entah karena apa atau siapa. Pokoknya gak enak. Bahkan kita mungkin pengen nyerah aja gitu. Pengen balik aja ke zona nyaman. Saking capenya. Mungkin. Then I suddenly realize of the power of vision. Kalo gw ga inget kupon makanan, mungkin gw akan quit aja makan tu ramen. So, what’s your “food coupon”? Let it become your booster everytime you want to give up.
Terakhir gw belajar, ada yang lebih dari sebuah kupon makanan. Sense of victory. Perasaan takjub dan heran bisa sampai di titik itu. The point of victory. I call it The Check Point. So, I made it? How come? Gw yang quitter itu? Gw yang dulu suka nyerah? I look up there. Oh, I see. It’s Him. Step by step leading my way graciously. And puts me at that Check Point. I got more than a food coupon. A transformation.
Yah, itulah sense of victory. Gw sudah pernah merasakannya. Dalam hal terkecil. Dalam pergumulan terberat. Dan sekarang sedang berjalan lagi. Berjuang lagi setengah mati. To find another Check Point. And when I get there someday, I’ll joyfully let you know about another victorious stories of mine.
I’m looking forward to hear yours. ![]()
